Showing posts with label Literasi Keuangan. Show all posts
Showing posts with label Literasi Keuangan. Show all posts

Saturday, 2 June 2018

Edukasi Literasi Sun Life Melalui Sitkom Keluarga Surya

Pemain Keluarga Surya, Kreator, dan Sun Life 

Hidup dan bekerja mencari uang adalah tujuan hampir semua orang. Setiap hari kesibukan orang di kota, didesa adalah mencukupi kebutuhan hidupnya. Tujuan utama nya adalah mencari uang. Ada yang bekerja, menekuni profesi, ada yang berdagang jual beli, bisnis wirausaha sendiri dan lain-lain.

Semua hanya sibuk bagaimana mendapat sumber pemasukan keuangan mereka. lalu apakah mereka juga memikirkan bagaimana mengelola keuangan yang mereka dapatkan? Tentunya mengatur keuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari itu penting. Memenuhi biaya makan, pakaian dan rumah juga hal penting yang sangat wajib terpenuhi. Untuk itulah gunanya kita bersusah payah dengan segala daya berusaha mencari rejeki.

Semua orang disadari atau tidak sudah mengatur keuangan mereka namun seperti apa perencanaan keuangan yang baik dan cermat? Seringkali kebutuhan dasar yang sudah terpenuhi semuanya itu tak membuat satu hal penting di fikirkan dan dilakukan yaitu asuransi.

Tingkat pengetahuan masyarakat menyoal literasi keuangan masih begitu rendah. Literasi yang juga bukan sekedar mafhum dengan pengelolaan dan perencanaan keuangan. Melainkan kesadaran yang mewujud dalam bentuk nyata memenuhi satu pos keuangan untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Namun juga memenuhi mimpi seperti mengecap pendidikan tinggi, mendapat pelayanan kesehatan terbaik, dan kemapanan finansial

Pemain Keluarga Surya dan Nara Sumber Press Conference 

Indeks Literasi Asuransi Indonesia


Kalau melihat data statistik Indeks Literasi Asuransi di Indonesia masih menjadi tantangan dan potensi terbesar industri asuransi jiwa. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) yang dilakukan OJK pada 2016 menunjukan tingkat literasi "baik" pada industri asuransi relatif rendah. Indeks literasi asuransi hanya mencapai 15,76% turun dari survei 2013 yaitu 17,84%. Sementara tingkat utilitas mencapai 12,08% tidak berubah jauh dari surrvei 2013 di angka 11,81%. Yang artinya dari 100 orang Indonesia hanya 15 sampai 16 orang yang mengenal lembaga jasa keuangan asuransi dan hanya 12 orang yang sudah menggunakan jasa asuransi.  

Nah sebegitu rendahnya literasi perencanaan keuangan masyarakat Indonesia. Sehingga data statistik yang di tunjukan tersebut memerlukan suatu upaya agar masyarakat semakin tinggi akan literasi perencanaan keuanganya.  Untuk itu PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life) tergerak untuk membantu pemerintah dengan kondisi tersebut.  Melalui Kampanye Komunikasi dengan tagar #LebihBaik Sekarang.

Kiri Shierly Ge, Kanan Elin Waty

Bukan hanya itu, untuk mendorong peningkatan literasi keuangan yang menyasar keluarga muda Indonesia, Sun Life Indonesia juga menghadirkan sebuah Sitkom (Komedi Situasi) dengan format video web series yang dapat di saksikan melalui kanal youtube yang dimiliki Sun Life Indonesia. Yaitu Sitkom Keluarga Surya yang saat ini sudah menayangkan seri kedua. 

Sitkom yang representatif dalam menggelitik keluarga muda Indonesia untuk lebih meningkatkan literasi keuangan mereka. Sitkom merupakan suatu genre sinema dengan gaya komedi. Sehingga dengan konsep sitkom ini diharapkan lebih dapat diterima oleh masyarakat tanpa terasa digurui atau seperti di tawarkan asuransi melalui agen asuransi.
  
Elin Waty

Hal ini di amini oleh Elin Waty sebagai Presiden Direktur Sun Life Finansial Indonesia, bahwa selama 23 tahun beroperasi di Indonesia telah mendampingi keluarga Indonesia dalam mewujudkan mimpi-mimpi di masa depan mereka. Melalui Kampanye dengan bentuk sitkom ini Elin Waty mengajak masyarakat untuk tidak menunda-nunda dalam perencanaan keuangan yang cermat untuk mencapai kemapanan finansial. 

"Saat pertama kali, terus kedua dan ketiga kalinya saya menonton sitkom Keluarga Surya, saya masih merasa Amaze dengan apa yang telah di lakukan oleh para creator sitcom web series Keluarga Surya ini", ungkap Elin Waty. Penyampaian tentang literasi keuangan nya begitu enteng dan renyah menyentuh keluarga muda Indonesia. Semoga saja edukasi lietrasi melalui sitkom ini dapat mendorong peningkatan yang baik bagi indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia. 

Sitkom Keluarga Surya


Episode perdana yang tayang pada 31 Mei 2018, Sitkom Keluarga Surya mengangkat tema seputar THR Lebaran yang saat ini juga sedang di alami oleh masyarakat Indonesia. Video web series ini mengisahkan tentang sebuah keluarga moderen dalam berbagai isu sehari-hari. Mulai dari pengelolaan THR, perencanaan pendidikan keluarga hingga pentingnya menerapkan pola hidup sehat. Durasi video yang cukup pendek sekitar 5 menit setiap episodenya. Hingga nanti ada 8 episode kisah keluarga surya yang dapat dinikmati oleh keluarga muda Indonesia. 

Para pemain Keluarga Surya adalah 1. Edo Borne sebagai Ayah Surya, 2. Karina Nadila sebagai Ibu Mentari, 3. Bima Azriel sebagai Fajar dan 4. Sandrinna Michelle sebagai Cahaya. Keempat pemain ini adalah aktor dan aktris muda bertalenta. Keren-keren mainnya.

Prof. Dr. Paulus Wirutomo. M.Sc

Video web series Keluarga Surya ini menggambarkan bahwa sistem nilai yang individu akan menentukan sikap dan perilaku terhadap sesuatu, tak terkecuali dalam perencanaan finansial. Hal ini diungkapkan oleh Prof. Dr. Paulus Wirutomo. M.Sc, Sosiolog sekaligus guru besar Sosiologi Universitas Indonesia.  Terkait pengelolaan keuangan sikap dan perilaku yang diterapkan generasi saat ini belum bergerak jauh dari generasi sebelumnya. Meski terjadi pergeseran pada peruntukan dan tujuan dari perencanaan keuangan itu sendiri.

Shierly Ge

Jika dibandingkan generasi saat ini dengan generasi sebelumya, keluarga muda Indonesia cenderung senang untuk menabung untuk tujuan jangka pendek dan enggan untuk berinvestasi jangka panjang. Hal ini juga di sampaikan oleh Shierly Ge, Chief Marketing Officer Sun Life Finansial Indonesia. Semoga saja kehadiran video web series bertajuk Keluarga Surya menjadi sarana edukasi literasi keuangan yang dapat dengan mudah diakses masyarakat luas dalam konten visual digital dan mengusung genre komedi situasi yang sarat akan makna. 

Berikut ini episode pertama sitkom Keluarga Surya. Selamat Menyaksikan....


Demikian
Salam.

Saya, ecek-eceknya sutradara





Tuesday, 18 April 2017

Kinerja Cemerlang, Prudential Indonesia Terus Berkomitmen Membangun Negeri

Prudential Indonesia, salah satu perusahaan asuransi jiwa yang dikenal masyarakat Indonesia. Prudential menjadi perusahaan asuransi jiwa yang sudah dekat di hadi dengan layanan selama 21 tahun  dan Prudential Syariah selama 9 tahun di Indonesia. Lewat 160 kantor cabang  di seluruh nusantara, memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat.

Berkat kepercayaan 2,4 juta masyarakat, Prudential Indonesia meraih kinerja yang cemerlang sepanjang 2016. Klaim yang dibayarkan kepada nasabah Prudential Indonesia mencapai 9,9 Triliun, didominasi klaim asuransi kesehatan dan penyakit kritis. Yang pada tahun 2015 Prudential Indonesia membayarkan 9,1 Triliun, terjadi peningkatan 8,1%.


John Oehmke, Chief Investment Officer Prudential Indonesia, memaparkan komitmen Prudential Indonesia memberikan layanan terbaik. Jumlah premii yang dihimpun mencapai 62,7 Triliun (2016l. Terjadi peningkatan 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya 55,9 Triliun. Menjadi salah satu indikator kepercayaan masyarakat pada Prudential.

Prudential Indonesia juga menghadirkan inovasi. Bekerjasama dengan East Spring menyedia 16 pilihan dana investasi, bisa dipilih sesuai kebutuhan nasabah. Dua jenis dana investasi terbaru, yaitu Rupiah Value Discovery dan Syariah Asia Pasifif Fund. Sehingga Prudential Indonesia, meraih dana kekolaan mencapai 54,5 Triliun (2016), terjadi peningkatan 20,5% dibandingkan tahun sebelumnya 45,1 Triliun.



Alfred Triestanto, Chief Markering Officer Eastspring Invesment, memaparkan proyeksi ekonomi Indonesia pada tahun 2017. Kondisi perekonomian 2017 akan lebih baik, inflasi terjaga, dan semakin konsen pemerintahan di pembangunan infrastruktur. Satu tahun terakhir dana dari investor asing mencapai 7,5 Triliun (saham) dan 48, 6 Triliun (obligasi). Sebuah pertanda yang baik, tentunya juga bagi perkembangan dana investasi di Prudential Indonesia.


Jens Reisch, Presiden Direktur Prudential Indonesia, juga optimis dengan perekonomian Indonesia yang semakin lebih baik. Prudential Indonesia menerima 32 penghargaan. Prudential Indonesia fokus pada pelayanan kepada nasabah, dengan 2.000 staf dan 260 ribu pemasar.



Tak hanya meraih kinerja cemerlang, Prudential melakukan kegiatan sosial. Nini Sumohandoyo, Corporate Marketing, Communivation,& Sharia Director memapatkan kegiatan CSR.

Lewat program CSR  Prudential Indonesia dengan semangat "Bagimu Indonesia, Kami Berbagi". Kegiatan dilakukan Prudential baik sendiri, bekerjsama dengan pihak lain, dan juga dengan OJK. Sesuai POJK 46 Prudential turut dalam meningkatjan literasinkeuangan. Kegiaatan CSR Pridential berfokus pada tiga pilar:

-Pendidikan, lewat insiatif pendirian Taman Literasi Keuangan. Berlokasi di Taman Mataram, Jakarta Selatan. Anak-anak bisa bermain sambil belajar tentang dasar-dasar mengelola keuangan.

-Kesehatan, lewat donasi mesin aphesis kepada RSUD  Cipto Mangkusumo dan RS.Dr.Sardjito.Untuk anak-anak pengindap kanker, membantu lebih dari 7.000 anak survivors dan keluarga sepanjang 2016.

-Tanggap Bencana, bantuan donasi Gempa Aceh dalam bentuk barang dan uang kepada masyarakat.


Juga dipaparkan ternyata masyarakat Indonesia memiliki premi di bawah kebutuhan. Sering terjadi masyarakat "nombok" karena uang pertanggungan masih kurang. Ditutup dengan kutipan "Memiliki asuransi itu baik, tapi memiliki proteksi yang memadai lebih naik." - Nini Sumohandoyo.

Monday, 28 November 2016

Tingkatkan Literasi Keuangan Anak, HSBC Dukung Program Anak Cerdas

Program Anak Cerdas yang didukung HSBC memasuki tahun kedua, program meningkatkan literasi keuangan bagi anak-anak sekolah dasar di 12 kota: Medan, Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Denpasar, Balikpapan, Makassar, Manado, dan Pontianak. Diselenggarakan oleh Prestasi Junior Indonesia dan didukung oleh HSBC. Terjadi penambahan 4 kota pada tahun kedua, pada tahun pertama dilaksanakan di 8 kota.

Nuni Sutyoko, Head of Corporate Sustainability HSBC Indonesia menyampaikam, HSBC berkomitmen untuk turut serta membantu meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Kesadaran akan keuangan baiknya mulai diajarkan kepada anak.


Melalui program Anak Cerdas edukasi tentang keuangan diajarkan dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami. Sudah 12.000 anak SD yang mengikuti program Anak Cerdas

Robert Gardiner, Executive Director PJI menyampaikan program ditujukan untuk nak SD kelas 3-5 menjadi peserta program Anak Cerdas.



Anak-anak akan diajak untuk berani mulai menentukan pilihan yang bertanggung jawab. "Memilih antara makan sepiring nasi goreng atau dua roti" dan "Memilih memiliki satu kado besar atau dua kado kecil" contoh pentanyaan yang ditanyakan pada anak-anak. Tak ada jawaban yang salah, asalkan anak bisa mengemukakan pendapatnya.


Bertempat di SDN 12 Bendungan Hilir berlangsung kegiatan Anak Cerdas pada 29 November 2016. Anak-anak diajarkan untuk membedakan mana kebutuhan dan keinginan, cara mendapatkan uang, menabung, dan berbagi dengan orang lain. Terdiri dari lima paket bahan pengajaran di setiap kelas yang berbeda-beda menggunakan tablet




Setelah satu program Anak Cerdas berjalan, literasi keuangan anak kelas 3 mencapai 22%, anak kelas 4 mencapai 22%, dan anak kelas 5 mencapai 17%. Pencapaian yang baik diraih di tahun pertama program Anak Cerdas.

HSBC mendukung target pemerintah agar 75% masyarakat Indonesia memiliki akses ke perbankan pada 2019. Saat ini baru 36% masyarakat Indonesia yang memiliki akses perbankan (Data World Bank). Tentu tak hanya HSBC sendiri, dukungan berbagai pihak sangat dibutuhkan.


Sejalan dengan program Anak Cerdas yang didukung HSBC. Psikolog anak Anna Surti Ariani menyampaikan perlu anak dikenalkan tentang uang, mulai dari manfaat uang. Ketika anak sudah bisa berhitung, mulai ajarkan menabung dan berjualan. Dilakukan secara bertahap sesuai umur anak.


Selain itu jangan biasakan anak mendapatkan keinginannya dengan menangis. Beri pengertian untuk mendapatkan sesuatu, anak bisa melakukan tugas tertentu dahulu. Hal ini membantu anak untuk mengendalikan emosi, ketika dewasa tak lagi berbelanja sekedar hanya karena ingin saja. Namun, bisa menahan diri untuk membeli barang diinginkan.

Aspek pertumbuhan anak di bidang kognitif, bahasa, emosi, dan sosial menjadi semakin baik lewat pengenalan literasi keuangan. Anak yang terbiasa dengan literasi keuangan, bisa terhindar dari sifat tamak. Serupa dengan penyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Korupsi terjadi karena ketamakan.

Selain program untuk anak SD, HSBC juga mendukung program literasi keuangan untuk anak SMP "More Than Money" yang diadakan pada awal tahun bersama Prestasi Junior Indonesia.

Tuesday, 31 May 2016

Mesin Cuci untuk Ibuku, Home Credit Pilihanku

Menemani ibuku berbelanja, hal yang selalu aku lakukan. Sejak kecil saat ibu berbelanja ke pasar, aku selalu dibawa bersamanya. Kadang sambil ibuku berbelanja, aku meminta dibelikan makanan dan mainan. Seraya merengek dan menangis pada ibuku, supaya ibuku membeli maianan dan makanan.

Suatu siang ada hal yang berbeda terjadi, saat ibuku berbelanja di salah satu supermarket. Saat melewati rak perabotan rumah tangga, tampak raut wajahnya berubah. Kuperhatikan ibuku sedang mengamati sebuah mesin cuci. Ibuku lalu berkata, "Kalau kita punya mesin cuci, pastinya ibu tak akan lelah mencuci lagi dengan tangan.

Namun saat melihat label harga mesin cuci itu, tertera harga Rp 2.799.900 lalu ibuku berkata, "Tapi mencuci tangan tetap lebih bersih"

Mesin Cuci Keinginan Ibuku
Mesin Cuci Keinginan Ibuku
Akupun bertanya pada ibuku, "Ibu ingin mesin cucinya?". Ibuku menjawab, "Tidak, kita membeli yang lain saja" (seraya mendorong troli belanjaan dan menjauhi rak perabotan rumah tangga).

Akupun memahami ibuku sebenarnya menginginkan mesin cuci tersebut. Namun ibuku berpikir, lebih baik uang yang aku miliki digunakan untuk membeli keperluan lain yang lebih penting.

Kalau saat aku masih kecil, aku yang merengek meminta dibelikan hal yang kuinginkan. Mungkin dengan membelikan mesin cuci keinginan ibuku, siapa tahu aku bisa membahagiakan ibuku.

Keesokan harinya aku kembali ke supermarket itu dan melihat kembali mesin cuci yang diinginkan ibuku. Beragam jenis pilihan dan harga aku perhatikan dengan seksama mesin cuci beragam merk yang tersedia.

Tak lama ada petugas supermarket yang berjalan ke arahku. Mungkin petugas dari melihat diriku yang mondar-mandir ke sana dan kemari. Petugas supermarket bertanya, "Barang apa yang dicari, pak? Bisa saya bantu, mencarikan barang yang diinginkan.". Akupun menjawab, " Tidak, mas. Saya hanya lihat-lihat saja dahulu." Petugas supermarket perlahan meninggalkan saya, saya akhirnya pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah saya memeriksa jumlah uang tabungan yang saya miliki. Rasanya cukup jika saya memilih memberli dan membayar secara tunai. Namun saya teringat bahwa harus menabung untuk keperluan lain di masa depan.Teringat nasihat ibu padaku, ada keperluan lain yang lebih penting untuk dibeli.

Namun saya sekilas teringat, bahwa ada fasilitas cicilan yang bisa disediakan oleh pihak supermarket. Dengan menggunakan fasilitas cicilan, saya bisa membeli mesin cuci untuk ibu. Pembayaran cicilan yang dibayarkan menjadi ringan setiap bulannya.

Saya mencari informasi cicilan di supermarket tersebut melalui internet. Sebagian besar promo ternyata melakukan cicilan barang dengan kartu kredit. Akupun tak mau berhenti mencari informasi, tak lama aku menemukan bahwa ada cicilan barang dengan jasa perusahaan pembiayaan.

Dengan menggunakan pembelian melalui perusahaan pembiayaan, bagi orang yang tidak memiliki kartu kredit sepertiku bisa membeli barang dengan cara mencicil.

Ternyata pilihan perusahaan pembiayaan ada beberapa perusahaan. Sampai saya menemukan perusahaan bernama Home Credit. Dari namanya Home Credit sudah membuat saya yakin dengan perusahaan ini. Pastinya memberikan jasa pembiayaan untuk keperluan rumah tangga. Home Credit hadir di Indonesia sejak tahun 2012. Empat tahun waktu yang cukup untuk membuktikan kredibilitas Home Credit di Indonesia.

Saat mengakses websitenya, saya merasakan kemudahan akses website yang mobile friendly. Ada beragam pilihan barang yang bisa dilayani pembeliannya oleh Home Credit.

Tampilan Website Home Credit
Tampilan Website Home Credit

Selain itu ada pilihan simulasi uang muka (DP), lama cicilan, dan besaran cicilan yang harus dibayarkan. Saat menghitung kemampuan membayar uang muka dan jangka waktu, serta besaran cicil yang harus saya bayarakan setiap bulannya.

Dengan ketentuan besaran cicilan maksimal 30% dari penghasilan bulanan, saya masih mampu membayar besaran cicilan kredit mesin cuci untuk ibuku. Barang keinginan ibuku bisa terbeli, akupun ringan membayar cicilannya.

Dengan harga mesin cuci sebesar Rp 2.799.900, uang muka Rp 1.000.000 dengan waktu cicilan 12 bulan. Maka setiap bulannya saya tinggal membayar cicilan Rp 245.000. Besaran cicilan yang ringan dan belum mencapai batas maksimal 30% dari penghasilan saya. Setelah memahami perhitungan cicilan.

Ilustrasi Perhitungan Cicilan Home Credit
Ilustrasi Perhitungan Cicilan

Tak lama setelah saya kembali menuju supermarket dan menanakan perihal program cicilan Home Credit di supermarket tersebut. Ternyata supermarket masih memiliki program cicilan tanpa kartu kredit dengan Home Credit. Petugas supermarket menjelaskan kepada saya, cara melakukan pembelian mesin cuci dengan Home Credit. Tinggal membawa KTP dan satu dokumen lainnya (bisa berupa SIM/NPWP/Jamsostek)

Dengan proses persetujuan hanya dalam waktu 30 menit. Lalu tinggal elampirkan dokumen yang dibutuhkan dan membayar uang muka, maka barang yang ingin dibeli bisa dibawa pulang.

Proses Home Credit Hanya 30 Menit
Proses Cepat Home Credit

Mudah, cepat, dan praktis bagi nasabah yang ingin menggunakan jasa pembiayaan Home Credit. Bahkan untuk nasabah dengan pembayaran yang selalu tepat waktu akan mendapatkan gratis satu kali angsuran..

Kini tinggal saya berdiskusi dengan ibu, mesin cuci mana yang diinginkan dan saya mempersiakan uang muka serta pilihan cicilan yang sesuai dengan kemampuan saya. Home Credit menjadi pilihan bagi saya, mewujudkan keinginan ibu untuk memiliki mesin cuci.